Bitcoin Mencapai Rekor Tertinggi Rp1,28 Miliar, Pengaruh Harapan Damai AS-Iran Terhadap Reli Kripto

Bitcoin, aset kripto paling berharga di dunia, kembali menunjukkan performa yang mengesankan setelah terjebak di bawah level US$70.000. Pada perdagangan Selasa, 14 April 2026, harga Bitcoin tercatat mencapai US$74.901, yang setara dengan sekitar Rp 1,28 miliar (dengan asumsi kurs Rp 17.130 per dolar AS).
Angka ini mencerminkan level tertinggi yang dicapai dalam sebulan terakhir, tepatnya sejak 17 Maret 2026. Meskipun demikian, setelah mencapai puncaknya, harga Bitcoin mengalami sedikit penurunan dan diperdagangkan pada kisaran US$74.400 pada Selasa pagi waktu Asia.
Tak hanya Bitcoin, Ethereum juga mencatatkan kenaikan yang signifikan, melonjak sekitar 5 persen menjadi US$2.370, atau setara dengan Rp 40,6 juta.
Kenaikan yang pesat ini didorong oleh harapan yang muncul terkait berakhirnya konflik di Timur Tengah, serta kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden Donald Trump menginformasikan bahwa Iran telah membuka jalur komunikasi untuk pembicaraan damai, meskipun sebelumnya AS telah memberlakukan blokade maritim di Selat Hormuz.
Optimisme pasar terhadap meredanya ketegangan tersebut turut memicu peningkatan harga aset berisiko secara umum, termasuk indeks acuan di kawasan Asia. Harapan bahwa kesepakatan damai dapat menekan harga minyak juga diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi global.
Chief Investment Officer Ericsenz Capital, Damien Loh, menjelaskan bahwa Bitcoin mengikuti tren kenaikan aset berisiko secara keseluruhan. Ia menambahkan bahwa meskipun ada tindakan blokade yang dilakukan, pasar melihat langkah Trump sebagai sinyal positif yang memberi ruang untuk negosiasi lebih lanjut.
Loh juga menyoroti bahwa meskipun kinerja Bitcoin saat ini lebih baik dibandingkan dengan aset berisiko lainnya, belum ada indikasi kuat bahwa harga akan meningkat signifikan dalam waktu dekat.
Menurutnya, Bitcoin masih menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan aset berisiko lainnya, tetapi untuk mengalami lonjakan yang tajam, diperlukan kepastian regulasi, seperti pengesahan Clarity Act di AS.
Analis dari IG Markets, Tony Sycamore, berpendapat bahwa pergerakan Bitcoin saat ini lebih mirip dengan aset berisiko daripada sebagai aset lindung nilai. Ia memprediksi bahwa tren bullish dalam jangka menengah akan terbentuk jika Bitcoin berhasil menembus level resistance yang krusial.
Untuk menciptakan prospek yang lebih optimis, Bitcoin perlu menembus dan mempertahankan posisinya di atas level US$79.000, seperti yang diungkapkan oleh Sycamore.
Sejak mengalami penurunan dari rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.000 pada Oktober 2025, Bitcoin cenderung bergerak dalam rentang yang sempit selama dua bulan terakhir. Meskipun demikian, aset ini tetap menunjukkan ketahanan yang mengesankan dibandingkan instrumen keuangan tradisional, terutama sejak ketegangan antara AS dan Iran meningkat pada akhir Februari 2026.
➡️ Baca Juga: Pelatih Malaysia Mengakui Kelemahan Usai Kekalahan dari Vietnam di Piala AFF U-17 2026
➡️ Baca Juga: Manfaatkan Data Analitik untuk Menentukan Prioritas Kerja yang Efektif dan Tepat




