Transaksi SBN Harian Meningkat Signifikan, Capai Rp60 Triliun pada 2025

Jakarta – Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Eddy Manindo Harahap, mengungkapkan bahwa perkembangan Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan tren positif selama tahun 2025. Salah satu indikator yang mencolok adalah rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) yang mencapai Rp 60 triliun pada periode tersebut.
Eddy menjelaskan bahwa pertumbuhan dalam surat utang, baik SBN maupun obligasi korporasi, telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Rata-rata nilai transaksi harian SBN telah mencapai angka yang signifikan, yaitu sekitar Rp 60 triliun pada tahun 2025, sebagaimana dilaporkan pada Selasa, 14 April 2026.
Lebih lanjut, Eddy mencatat bahwa kepemilikan SBN yang dapat diperdagangkan mengalami pertumbuhan sebesar 8,67 persen secara year on year (yoy). Capaian ini tidak hanya mencerminkan meningkatnya aktivitas perdagangan, tetapi juga menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku pasar terhadap instrumen surat utang semakin kuat.
Lonjakan transaksi ini merupakan sinyal positif bahwa minat investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, terhadap SBN pemerintah Indonesia terus meningkat, meskipun terdapat berbagai dinamika dalam pasar keuangan global.
Eddy juga memaparkan bahwa aktivitas repurchase agreement (repo) SBN telah mengalami kenaikan yang signifikan. Saat ini, porsi repo SBN terhadap total transaksi mencapai sekitar 35 persen, dengan kontribusi repo antarbank yang mencakup lebih dari 70 persen dari keseluruhan aktivitas repo.
Eddy menambahkan bahwa porsi repo SBN yang mencapai 35 persen dari total transaksi menunjukkan perkembangan yang sangat positif, dan kontribusi dari repo antarbank yang lebih dari 70 persen menegaskan pentingnya aktivitas ini dalam pasar.
Dia menegaskan bahwa data-data tersebut menggambarkan pendalaman pasar keuangan domestik yang semakin kokoh. Selain itu, proses pemulihan harga (price recovery) juga menunjukkan tren yang lebih baik dan mekanisme repo semakin berkembang dengan pendekatan berbasis pasar (market-driven).
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) berhasil mencapai total nilai transaksi sebesar Rp1.382,1 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini mencatat lonjakan yang luar biasa sebesar 461,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari total transaksi tersebut, aktivitas repo mencapai Rp 751,6 triliun, sementara transaksi outright atau jual beli surat utang mencapai Rp 630,5 triliun. Peningkatan ini menunjukkan bahwa likuiditas di pasar surat utang domestik semakin membaik.
Sebagai tambahan informasi, kini SPPA telah digunakan oleh 39 pengguna jasa, di mana 14 di antaranya aktif dalam transaksi repo. Pengguna jasa tersebut terdiri dari bank umum, bank pembangunan daerah, serta perusahaan sekuritas yang berpartisipasi dalam pasar.
➡️ Baca Juga: Iran Tegaskan Tidak Akan Tunduk pada AS dan Siap Berikan Balasan yang Lebih Keras
➡️ Baca Juga: Panduan Memilih Hosting Website yang Tepat untuk Situs Anda




