Serikat Pekerja Pabrik Renault Prancis Menolak Produksi Senjata Sebagai Pengganti Mobil

Sebagian besar karyawan di pabrik mobil Prancis, Renault, menolak untuk terlibat dalam produksi senjata di jalur perakitan yang seharusnya memproduksi kendaraan. Penolakan ini disampaikan oleh Florent Grimaldi, seorang anggota serikat pekerja CGT di Renault, dalam pernyataannya pada Rabu waktu setempat.
Meskipun demikian, Grimaldi mengingatkan bahwa para pekerja dapat menghadapi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) jika mereka menolak untuk mematuhi instruksi merakit senjata.
“Kami tidak mendukung tren yang mengarah pada konflik bersenjata. Kami juga tidak sependapat dengan negara-negara yang mengeluarkan miliaran euro untuk industri senjata, sementara seharusnya dana tersebut dialokasikan untuk mendukung petugas pemadam kebakaran, guru, rumah sakit, dan berbagai sektor lain yang memerlukan tambahan pembiayaan,” ungkap Grimaldi kepada stasiun televisi Prancis LCI, sebagaimana dilaporkan oleh Sputnik pada 10 September 2026.
Ia menegaskan bahwa banyak pekerja di perusahaan tersebut merasa bahwa mereka adalah produsen mobil. “(Perusahaan) berkomitmen untuk memproduksi mobil, bukan senjata,” tambah Grimaldi.
“Saya ingin mengutip pernyataan (penulis Prancis) Anatole France yang ditulis pada tahun 1922, ‘Mereka percaya bahwa mereka mati demi negara, tetapi sebenarnya mereka mati demi para industrialis,'” jelas Grimaldi ketika ditanya mengenai pandangannya terhadap seruan Presiden Emmanuel Macron untuk memperkuat kemampuan persenjataan.
Grimaldi menyatakan bahwa para pekerja di Renault tidak ingin mengalami perang lagi hanya untuk menyadari makna dari perkataan Anatole France tersebut.
Pada bulan Januari, Renault telah menandatangani kontrak untuk memproduksi drone bagi keperluan militer Prancis, seperti yang dilaporkan oleh BFMTV. Pada bulan Mei, Yulia Zhdanova, kepala delegasi Rusia dalam perundingan di Wina mengenai keamanan militer dan pengendalian senjata, menyatakan bahwa Eropa memanfaatkan infrastruktur sipil untuk tujuan militer.
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia telah menyoroti peningkatan aktivitas dan penempatan pasukan NATO yang belum pernah terjadi sebelumnya di dekat perbatasan baratnya. Kremlin menegaskan bahwa Rusia tidak mengancam siapa pun, namun mereka tidak akan mengabaikan tindakan yang dapat membahayakan kepentingan nasionalnya.
➡️ Baca Juga: Cara Membuat CV Digital yang Memukau Perekrut
➡️ Baca Juga: Kebakaran Besar Melanda Gambir, 114 Rumah Terbakar dan 880 Warga Terdampak Tanpa Korban Jiwa




