Emiten KFC Alami Kerugian Rp369 Miliar di 2025, Manajemen Rencanakan Strategi Pemulihan

PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), emiten yang bertanggung jawab atas pengelolaan gerai restoran cepat saji KFC di Indonesia, mengalami kerugian bersih sebesar Rp 369,24 miliar sepanjang tahun 2025. Meskipun demikian, perusahaan ini berhasil mengurangi hampir setengah dari kerugian yang terjadi pada tahun sebelumnya, yang tercatat mencapai Rp 798,24 miliar.
Dalam laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit, terlihat bahwa tekanan keuangan perusahaan berfokus pada aspek operasional. Beban penjualan dan distribusi tercatat mencapai Rp 2,60 triliun, sedangkan beban umum dan administrasi mencapai Rp 665,3 miliar.
Meskipun kedua beban ini mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu, kerugian usaha menunjukkan perbaikan yang signifikan, dari Rp 784 miliar pada 2024 menjadi Rp 311,55 miliar pada 2025.
Manajemen perusahaan mengungkapkan bahwa kerugian konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2025 mencapai Rp 369 miliar. Selain itu, akumulasi kerugian konsolidasi hingga saat itu mencapai Rp 507 miliar, seperti yang disampaikan dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 20 April 2026.
Walaupun mengalami kerugian, pendapatan perusahaan tumbuh tipis sekitar 0,20 persen secara year on year (yoy), menjadi Rp 4,88 triliun pada tahun 2025 dibandingkan dengan Rp 4,87 triliun pada tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan ini sejalan dengan penurunan beban pokok penjualan dari Rp 2,03 triliun menjadi Rp 1,99 triliun.
Manajemen FAST juga melaporkan adanya peningkatan total aset sebesar 40 persen secara yoy, mencapai Rp 4,94 triliun dari Rp 3,52 triliun pada tahun 2024. Namun, total liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan signifikan sekitar 32,68 persen, menjadi Rp 4,51 triliun dari Rp 3,40 triliun.
Manajemen perusahaan mengungkapkan bahwa mereka terus mengelola likuiditas dengan aktif dan tetap optimis terhadap kemampuan Grup untuk memenuhi semua kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo.
Lebih jauh, manajemen FAST menjelaskan bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh tantangan makroekonomi global, termasuk ketegangan konflik di Timur Tengah dan melemahnya daya beli masyarakat di Indonesia.
Manajemen telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi Grup saat ini dan tetap yakin bahwa mereka memiliki kapasitas untuk melanjutkan operasinya serta memenuhi kewajiban yang ada dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Untuk menghadapi tantangan yang ada, perusahaan merencanakan berbagai langkah proaktif dan inisiatif strategis. Salah satu langkah yang akan diambil adalah memperkuat kinerja bisnis inti dan daya saing di pasar dengan memanfaatkan brand equity yang ada, serta mengoptimalkan product mix melalui peningkatan menu inti. Selain itu, penerapan strategi harga dan bundling yang disiplin juga akan dilakukan untuk meningkatkan nilai transaksi rata-rata dan margin keuntungan.
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Menghitung Net Worth Secara Rutin untuk Menilai Manajemen Keuangan Anda
➡️ Baca Juga: KPK Tegaskan Presiden dan Wapres Sebagai Teladan Pejabat dalam Pelaporan Harta Kekayaan




