OJK Menargetkan Inklusi Keuangan Nasional Mencapai 98 Persen pada Tahun 2045

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang berupaya untuk meningkatkan tingkat inklusi keuangan nasional hingga mencapai 98 persen pada tahun 2045. Berbagai strategi dan langkah konkret akan dilaksanakan untuk mencapai target ambisius ini.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa pelajar dan mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang masih di bawah rata-rata nasional. Ini menjadi perhatian serius bagi OJK dalam upaya memperbaiki kondisi tersebut.
“Sejalan dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2045, kami optimis bahwa inklusi keuangan di Indonesia dapat mencapai 98 persen pada tahun 2045,” ungkapnya dalam sambutannya pada acara Hari Indonesia Menabung di Bekasi pada 29 Agustus 2026.
Friderica, yang akrab disapa Kiki, menekankan bahwa situasi ini menjadikan pelajar dan mahasiswa sebagai salah satu fokus utama OJK dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan mereka.
“Melihat kondisi literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa yang masih di bawah standar, ini menjadi tanggung jawab kita semua, termasuk para kepala daerah, untuk meningkatkan indeks literasi dan inklusi di Indonesia,” tambahnya.
Hasil dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa hanya mencapai 62,72 persen, yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat nasional yang berada di angka 69,57 persen.
Sementara itu, tingkat inklusi keuangan di kelompok ini tercatat 92,76 persen, masih di bawah angka nasional yang mencapai 93,61 persen. Kiki mencatat pentingnya peningkatan indeks ini, mengingat jumlah penduduk yang berada dalam kelompok usia pelajar dan mahasiswa cukup besar.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 88 juta individu di usia pelajar dan mahasiswa, yang setara dengan 31 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 287,2 juta jiwa.
Kiki menegaskan bahwa meskipun akses terhadap produk dan layanan keuangan semakin mudah, kemampuan untuk memahami dan menggunakannya dengan bijak juga harus ditingkatkan.
Lebih lanjut, Kiki mengakui bahwa tantangan dalam literasi keuangan bagi generasi muda semakin kompleks. Kemudahan dalam berbelanja daring dan berbagai layanan keuangan digital dapat menjadi gangguan, yang mendorong perilaku belanja impulsif di kalangan anak muda melalui platform e-commerce.
➡️ Baca Juga: Bripda Natanael Meninggal di Asrama, Diduga Korban Kekerasan dari Senior
➡️ Baca Juga: Strategi Efektif untuk Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Rutinitas Padat




