depo 10k depo 10k
berita

Perundingan AS-Iran Gagal, Trump Perintahkan Blokade Kapal di Selat Hormuz untuk Keamanan Nasional

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung pada hari Sabtu di Islamabad menarik perhatian global. Diskusi yang berlangsung selama lebih dari 21 jam tersebut berakhir tanpa adanya kesepakatan yang dicapai.

Pengumuman mengenai hasil perundingan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, pada Minggu pagi waktu setempat. Dia menyatakan bahwa mereka akan kembali ke AS tanpa membawa hasil positif dari perundingan ini.

“Kami telah melakukan negosiasi selama 21 jam dan membahas sejumlah isu penting dengan Iran. Ini adalah kabar baik. Namun, kabar buruknya adalah kami tidak berhasil mencapai kesepakatan, dan saya percaya ini lebih merugikan Iran daripada Amerika Serikat. Jadi, kami kembali ke negara kami tanpa hasil yang diharapkan,” ujar Vance dalam siaran langsung yang disiarkan oleh Al Jazeera pada 12 April 2026.

Menanggapi hasil perundingan yang tidak membuahkan hasil, Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapannya. Melalui dua unggahan di media sosial Truth, ia menyatakan bahwa militer AS siap sepenuhnya untuk menghadapi kekuatan Iran pada saat yang dianggap tepat.

“Pada suatu ketika, kita akan mencapai situasi di mana semua pihak dapat beroperasi dengan bebas, namun Iran belum memberikan izin untuk itu,” tulis Trump seperti yang dilaporkan oleh Anadolu Agency pada 13 April 2026.

Dia juga mengungkapkan bahwa pasukan AS akan memulai proses blokade terhadap setiap kapal yang berusaha memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz.

“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut kami untuk menemukan dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar pungutan kepada Iran. Tidak ada pihak yang membayar pungutan ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” lanjut Trump dalam unggahannya.

Dalam unggahan kedua, Trump juga menyinggung isu nuklir Iran. Ia menyatakan bahwa Iran tidak menunjukkan niat untuk meninggalkan ambisi nuklirnya. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan perundingan tersebut.

“Dalam banyak hal, poin-poin yang telah dibahas sebenarnya lebih baik daripada melanjutkan operasi militer sampai tuntas. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan risiko jika kekuatan nuklir berakhir di tangan pihak yang sangat tidak stabil, sulit diprediksi, dan berpotensi berbahaya,” tambah Trump.

➡️ Baca Juga: KPK Menjelaskan Pengalihan Penahanan Yaqut Cholil ke Tahanan Rumah Sebagai Strategi Penyidikan

➡️ Baca Juga: Pembelajaran hybrid sebagai model standar 2025: Masa Depan Pendidikan

Related Articles

Back to top button