Mojtaba Khamenei Dua Kali Selamat dari Serangan Bom AS-Israel, Simak Keadaannya Saat Ini

Mojtaba Khamenei, pemimpin baru Iran, dilaporkan hampir kehilangan nyawa setelah serangan bom yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap rumah sakit tempat ia dirawat. Informasi ini disampaikan oleh seorang ulama Iran dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Qatar pada hari Kamis yang lalu.
Pada 28 Februari, kompleks kediaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran mengalami serangan dari pihak AS dan Israel. Insiden tersebut mengakibatkan kematian Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior Iran. Dalam serangkaian serangan berikutnya, AS dan Israel juga diketahui membom tiga rumah sakit di Teheran dalam kurun waktu beberapa hari setelahnya.
Menurut laporan dari NYPost pada 28 September 2026, Mojtaba Khamenei berhasil diselamatkan dari reruntuhan salah satu rumah sakit setelah serangan tersebut. Sejak saat itu, ia menghilang dan tidak pernah terlihat di depan umum atau terdengar suaranya.
“Walaupun dia mengalami luka dan dilarikan ke rumah sakit, tiga rumah sakit di Teheran dibom. Mojtaba berada di salah satu rumah sakit tersebut dan berhasil dievakuasi dari reruntuhan,” ungkap Mohsen Heydari, anggota Majelis Ahli Iran, kepada Al Araby, sebuah jaringan televisi Qatar, pada hari Kamis lalu.
Mojtaba Khamenei ternyata tidak menyadari bahwa dirinya telah terpilih menjadi pemimpin tertinggi Iran yang baru pada 8 Maret, sampai pengumuman tersebut disiarkan di televisi pemerintah.
Setelah keputusan tersebut diumumkan, Heydari menyatakan bahwa Mojtaba secara hukum dan agama memiliki kewajiban untuk menerima jabatan sebagai pemimpin tertinggi.
Majelis Ahli, lembaga yang memiliki hak untuk memilih pemimpin tertinggi Iran, juga menjadi target serangan dari AS dan Israel. Sekretariat Majelis Ahli di Qom dibom, menewaskan delapan orang dan menghancurkan dokumen serta rekomendasi terkait calon pemimpin baru.
Dalam situasi yang mencekam tersebut, anggota Majelis Ahli menuliskan pilihan mereka di atas kertas sebelum dipanggil ke ruang rahasia. Mereka tidak diberi tahu sebelumnya mengenai lokasi atau agenda pertemuan ini. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar seminggu setelah serangan awal.
Heydari menjadi orang pertama yang mengusulkan nama Mojtaba dalam pertemuan itu, meskipun pengusulannya bertentangan dengan peringatan yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump, yang meminta agar Iran tidak memilih putra mendiang Khamenei. Terdapat laporan bahwa Mojtaba memiliki pandangan yang lebih keras dibandingkan dengan ayahnya.
➡️ Baca Juga: Dave Laksono: Strategi Hilirisasi Terintegrasi untuk Menjadikan RI Pusat Rantai Pasok Energi Hijau Dunia
➡️ Baca Juga: BMKG Mencatat 1.598 Gempa Susulan Terjadi di NTT Hari Ini




