IHSG Menguat 4,16 Persen, Saham Bank Pendorong Utama di Tengah Penjualan Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami lonjakan signifikan pada sesi pertama perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. IHSG menguat sebesar 208,02 poin atau 4,16 persen, mencapai level 5.204,63 setelah sebelumnya tertekan akibat usulan evaluasi status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kenaikan ini terjadi di tengah sejumlah faktor positif, termasuk rencana emiten untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback, langkah untuk meningkatkan kepemilikan saham oleh badan usaha milik negara (BUMN), serta inisiatif untuk memperbaiki transparansi di pasar modal. Meskipun demikian, investor asing tetap mencatatkan penjualan bersih dalam nilai transaksi pada sesi pertama.
Helmy Kristanto, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa berbagai faktor tersebut berkontribusi terhadap pemulihan IHSG. Namun, dia menegaskan bahwa perhatian pelaku pasar tetap tertuju pada perkembangan kebijakan dan konsistensi implementasinya, terutama terkait konsultasi MSCI mengenai reklasifikasi pasar Indonesia.
Helmy menjelaskan adanya empat faktor sentimen yang mendukung penguatan IHSG. Pertama, beberapa emiten telah menyiapkan dana untuk melakukan buyback saham, yang dapat meningkatkan permintaan saham di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.
Kedua, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana untuk meningkatkan keterbukaan informasi mengenai afiliasi pemegang saham yang memiliki lebih dari 1 persen. BEI juga sedang merencanakan pengeluaran saham yang memiliki status High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
Menurut Helmy, implementasi kebijakan semacam ini menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh investor dalam upaya memulihkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Ketiga, inisiatif Danantara untuk meningkatkan kepemilikan pada saham-saham BUMN juga memberikan dorongan positif. Rencana ini diharapkan dapat meningkatkan optimisme terhadap saham-saham perusahaan pelat merah, khususnya di sektor perbankan yang berperan besar dalam penguatan indeks pada sesi pertama.
Keempat, komitmen reformasi yang disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pemerintah juga menjadi katalis positif. Fokus utamanya adalah penegakan aturan terhadap dugaan praktik perdagangan terkoordinasi dan peningkatan transparansi di pasar modal.
Walaupun berbagai sentimen positif tersebut berkontribusi pada pemulihan, Helmy mengingatkan bahwa pelaku pasar masih menunggu bukti nyata mengenai penerapan kebijakan secara konsisten.
“Namun, pasar masih menantikan bukti implementasi yang konsisten, terutama di tengah konsultasi reklasifikasi Indonesia oleh MSCI,” ujar Helmy dalam kajiannya di Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026.
➡️ Baca Juga: Cara Menyusun Pendekatan Crypto yang Lebih Aman untuk Pemula tanpa Modal Besar
➡️ Baca Juga: FC Seoul Vs Persib Bandung: Jam Tayang dan Saluran TV untuk Pertandingan Sore Ini



