Harga Minyak Capai US$100, Badai AS dan Serangan Houthi Memicu Ancaman Pasokan

Harga minyak dunia menunjukkan lonjakan signifikan pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Para pelaku pasar mulai mengamati potensi gangguan pasokan akibat badai yang mengarah ke wilayah produksi minyak di Amerika Serikat. Selain itu, serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi di Arab Saudi semakin meningkatkan risiko terhadap kestabilan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kenaikan harga ini juga sejalan dengan penurunan yang terlihat pada persediaan minyak mentah di AS. Penurunan tersebut membuat pelaku pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan terjadinya gangguan dalam pasokan global, meskipun aliran minyak dari Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir mengalami pemulihan.
Harga minyak Brent mencatatkan kenaikan sebesar US$1,05 atau sekitar 1,04 persen, mencapai US$101,63 per barel pada pukul 04.00 GMT. Dengan menggunakan kurs Rp17.800 per dolar AS, harga tersebut setara dengan sekitar Rp1,81 juta per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan sebesar 80 sen atau 0,89 persen, menjadi US$90,24 per barel. Jika dikonversikan dengan kurs yang sama, harga tersebut sekitar Rp1,61 juta per barel.
Perhatian utama pasar minyak kini tertuju pada badai yang diperkirakan akan menghantam. Menurut ramalan cuaca di AS, badai yang terbentuk di Teluk Meksiko diprediksi akan menjadi badai Atlantik pertama di tahun 2026 dalam waktu dua hari ke depan, dan dapat berdampak pada fasilitas produksi minyak serta gas.
Wilayah lepas pantai di Teluk Meksiko yang berpotensi terkena dampak badai ini menyuplai sekitar 15 persen dari total produksi minyak mentah AS dan 5 persen dari total produksi gas alam negara tersebut.
Tim Waterer, kepala analis di KCM Trade, menekankan bahwa badai ini menambah lapisan risiko baru bagi pasar minyak. Hal ini bisa mengganggu proses produksi dan pengolahan pada saat pasar masih bergelut dengan berbagai masalah pasokan yang ada.
“Badai ini menjadi komplikasi yang tidak diinginkan bagi industri minyak, meningkatkan potensi terjadinya gangguan dalam produksi dan penyulingan ketika pasar sudah menghadapi berbagai tantangan terkait pasokan,” ujar Waterer, seperti yang dilaporkan oleh Reuters pada Rabu (7/10/2026).
Badai ini juga dapat berdampak pada enam kilang minyak yang ada. Kilang-kilang yang terletak di negara bagian sepanjang kawasan Teluk Meksiko menyumbang sekitar 50 persen dari total kapasitas pengolahan minyak AS, yang mencapai 18,2 juta barel per hari.
Dengan situasi yang semakin tidak menentu, pasar minyak akan terus memantau perkembangan badai dan dampaknya terhadap produksi serta pasokan. Harga minyak yang sudah mencapai US$100 menjadi indikator penting yang menunjukkan ketidakpastian di pasar global saat ini.
➡️ Baca Juga: Iran Luncurkan Rudal dan Drone sebagai Tanggapan terhadap Serangan Israel
➡️ Baca Juga: Trump Mengusulkan AS Keluar dari NATO: Apakah Mereka Hanya Macan Kertas?




