Iran Tegaskan Tidak Akan Tunduk pada AS dan Siap Berikan Balasan yang Lebih Keras

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah perundingan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad tidak membuahkan hasil. Ketegangan ini semakin meningkat ketika kedua negara gagal mencapai kesepakatan, yang menimbulkan berbagai reaksi dari para pemimpin masing-masing negara.
Setelah ketidakberhasilan dalam perundingan, Presiden AS Donald Trump segera mengeluarkan ancaman untuk memblokade Selat Hormuz. Menanggapi hal ini, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memberikan peringatan tegas terhadap ancaman tersebut, menunjukkan ketidakpuasan dan ketegasan Iran dalam menghadapi tekanan dari AS.
Dalam pernyataannya pada 12 April waktu setempat, Qalibaf menegaskan bahwa rakyat Iran telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyerah pada ancaman dari AS. Ia menyatakan bahwa strategi intimidasi tidak akan efektif terhadap Iran, dan tidak akan mempengaruhi tekad bangsa tersebut.
Ia juga menggarisbawahi bahwa sejak terjadinya Revolusi Islam pada tahun 1979, Iran telah menunjukkan ketahanan terhadap berbagai bentuk tekanan, baik militer, ekonomi, maupun politik. Qalibaf menekankan bahwa Iran akan memberikan reaksi yang sesuai, terlepas dari apakah situasi tersebut melibatkan konfrontasi atau dialog.
“Jika kalian memilih untuk berperang, kami akan melawan. Namun, jika kalian datang dengan pendekatan yang logis, kami pun akan merespons dengan cara yang rasional. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Jika kalian ingin menguji keteguhan kami sekali lagi, kami akan memberikan pelajaran yang lebih berat,” ujarnya, seperti yang dilaporkan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Iran siap untuk memberikan respons yang lebih keras kepada AS jika situasi yang serupa terulang kembali. Hal ini menunjukkan kesiapannya untuk tidak hanya mempertahankan, tetapi juga melindungi kepentingan nasional Iran dengan tegas.
Dalam kesempatan tersebut, Qalibaf juga menekankan bahwa satu-satunya cara bagi Amerika Serikat untuk memperbaiki hubungan adalah dengan membangun kembali kepercayaan dengan Iran. Ia menegaskan bahwa Washington memiliki utang kepada rakyat Iran dan harus berusaha untuk menebus kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu.
Qalibaf juga mencatat bahwa demonstrasi besar-besaran di seluruh Iran untuk mendukung Republik Islam, yang terjadi sejak agresi AS-Israel pada akhir Februari, telah memperkuat posisi Iran dalam perundingan yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad.
Ia mengucapkan terima kasih kepada rakyat Iran atas partisipasi yang lebih kuat dari sebelumnya dalam aksi unjuk rasa, yang dinilainya semakin memperkokoh posisi tim negosiator Iran dalam mempertahankan kepentingan nasional.
Perundingan yang berlangsung selama 21 jam antara Iran dan AS menunjukkan betapa kompleks dan penuh tantangan hubungan kedua negara ini, di mana setiap pihak berupaya mempertahankan posisi dan kepentingan mereka.
➡️ Baca Juga: Naik Transjakarta Hari Ini Hanya Dengan Biaya Rp 12, Segera Manfaatkan Kesempatan Ini!
➡️ Baca Juga: Dante Rajagukguk Dicopot dari Kajari Karo Akibat Efek Domino Kasus Amsal Sitepu




