Skema Bagi Hasil Ojol 92:8 Berisiko, Pengemudi Belum Pasti Meningkatkan Pendapatan

Kebijakan baru terkait skema bagi hasil antara perusahaan aplikasi ojek online (ojol) dan mitra pengemudi, yang mengatur pembagian sebesar 92% untuk pengemudi dan 8% untuk perusahaan, telah menuai banyak kritik dari berbagai kalangan, termasuk pengamat dan ekonom.
Daripada memberikan dorongan langsung terhadap kesejahteraan pengemudi, penetapan komisi yang ketat ini dianggap berisiko menimbulkan dampak negatif yang lebih luas di seluruh ekosistem industri ride-hailing. Hal ini dapat merugikan pengemudi, konsumen, serta keberlangsungan bisnis aplikasi itu sendiri.
Marcus Ng, Kepala Strategi Ekonomi dan Asia Pasifik di Access Partnership, berpendapat bahwa meski secara teori skema bagi hasil ini terlihat menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan pengemudi, kenyataannya mekanisme pasar tidak sesederhana membatasi satu elemen biaya saja.
“Platform bekerja dengan model harga yang kompleks, yang mencakup tarif dasar, biaya layanan, dan tarif lonjakan (surge pricing),” ungkap Marcus dalam sebuah wawancara.
Ia menekankan bahwa pembatasan yang hanya fokus pada satu elemen dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih luas di pasar. Di Indonesia, batasan ini diperkirakan hanya akan mempengaruhi komisi tarif dasar, sehingga perusahaan besar kemungkinan harus menurunkan tarif dasar agar tidak membebani konsumen dengan biaya yang tinggi.
Di sisi lain, perusahaan platform seringkali beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis, sehingga memiliki keterbatasan untuk menyerap peningkatan biaya secara mendadak. Ketika tekanan biaya tersebut tidak dapat ditangani, mau tidak mau, beban akan dialihkan kepada konsumen.
Di tengah kondisi ekonomi yang membuat daya beli masyarakat semakin tertekan akibat biaya hidup yang melonjak, keterjangkauan harga menjadi faktor kunci dalam adopsi layanan ride-hailing di Asia Tenggara. Analis memperingatkan bahwa kenaikan tarif dapat menyebabkan konsumen kelas menengah perkotaan beralih kembali ke kendaraan pribadi atau memilih moda transportasi informal.
Bagi pengemudi, situasi ini juga menimbulkan dilema. Penurunan jumlah pesanan berpotensi memperpanjang waktu tunggu pengemudi, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan pemborosan bahan bakar dan penurunan total pendapatan harian, meskipun pendapatan per pesanan terlihat lebih baik di atas kertas.
“Kebijakan ini hanya fokus pada satu elemen dari struktur harga platform, tanpa memperhatikan aspek-aspek lainnya yang penting bagi kehidupan pengemudi. Hal ini berpotensi menimbulkan lebih banyak dampak negatif ketimbang manfaat bagi mereka,” tambahnya.
➡️ Baca Juga: Manfaat Karbohidrat Kompleks dalam Meningkatkan Stamina Atlet Lari Jarak Jauh
➡️ Baca Juga: Indonesia Raih 5 Emas di Asian Games 2026, Erick Thohir Sebut Modal Menuju Olimpiade 2028



