Polisi Temukan Dua Akun Instagram yang Mobilisasi Pelajar untuk Aksi Kerusuhan

Polres Metro Bekasi Kota baru-baru ini mengungkap adanya dua akun Instagram yang diduga digunakan untuk memobilisasi pelajar dalam aksi demonstrasi yang berujung pada kerusuhan. Penyidik saat ini tengah mendalami aktivitas kedua akun tersebut, memeriksa keterkaitan mereka dengan grup media sosial lain serta kasus yang saat ini sedang dalam penyelidikan.
Dua akun yang teridentifikasi tersebut dikelola oleh tiga individu, semuanya masih berstatus sebagai pelajar. Salah satu akun dioperasikan oleh dua pelajar, sementara akun yang lainnya ditangani oleh satu pelajar. Penjelasan dari ketiga pelajar ini kini sedang dicocokkan dengan data digital untuk mengklarifikasi peran masing-masing dalam mobilisasi tersebut.
Kompol Verdika Bagus Prasetya, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, menjelaskan bahwa fokus pemeriksaan adalah untuk menelusuri hubungan antara percakapan yang terjadi dalam grup dan tindakan yang dilakukan di lapangan. Hal ini penting agar pihak kepolisian dapat memahami secara lebih mendalam bagaimana ajakan untuk beraksi disampaikan serta siapa saja yang terlibat dalam proses tersebut.
“Penyelidikan kami bertujuan untuk memahami bagaimana ajakan ini sampai kepada pelajar, siapa yang meneruskan informasi tersebut, dan bagaimana respons dari para penerimanya. Setiap individu memiliki peran yang berbeda, sehingga keterangan mereka perlu kami sesuaikan dengan bukti yang kami kumpulkan,” tuturnya.
Verdika menegaskan bahwa pengembangan kasus ini tidak akan berhenti pada dua akun yang telah teridentifikasi. Timnya akan terus melacak akun-akun lainnya yang diduga digunakan untuk memobilisasi pelajar dalam aksi kerusuhan, termasuk mencari tahu siapa yang mungkin mengarahkan atau memfasilitasi kegiatan tersebut.
“Akan kami telusuri kemungkinan adanya pihak yang mendanai aksi ini. Semua keterkaitan akan kami selidiki berdasarkan bukti yang ada,” tegasnya.
Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Putu Kholis Aryana, juga mengingatkan para alumni dan pengelola akun lain agar tidak memanfaatkan kedekatan mereka dengan pelajar untuk mengajak melakukan tawuran, kekerasan, atau terlibat dalam kerusuhan. Penting bagi mereka untuk menjaga kepercayaan yang diberikan oleh para pelajar.
Kepercayaan pelajar kepada para senior mereka harus dijaga dengan memberikan teladan yang baik dan mendukung pendidikan yang berkelanjutan. Alumni seharusnya menjadi panutan yang bisa membantu adik-adik mereka dalam menyelesaikan pendidikan dan membuka peluang untuk masa depan yang lebih baik.
“Jangan sampai solidaritas antar sekolah atau loyalitas terhadap alumni menjadi tekanan bagi pelajar untuk mengikuti ajakan yang dapat membahayakan diri mereka. Mereka tidak perlu membuktikan keberanian melalui kekerasan atau tawuran,” ungkap Putu Kholis.
Putu juga menekankan pentingnya penyampaian aspirasi secara damai yang harus dihormati. Namun, ia menegaskan bahwa ajakan untuk melakukan kekerasan dan perusakan tidak bisa dibenarkan atas nama solidaritas. Pengelola akun perlu menyadari bahwa pesan yang disampaikan melalui media sosial dapat mempengaruhi keputusan pelajar dan berdampak nyata di lapangan.
➡️ Baca Juga: Vidi Aldiano Telah Meninggal Dunia, Berita Duka yang Mengguncang Publik
➡️ Baca Juga: Tim Curry, Pemeran Ikonik Pennywise, Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun




