Kerja Sama Negara BRICS Ditekankan BI untuk Memperkuat Ketahanan Ekonomi Global

Jakarta – Bank Indonesia menekankan betapa pentingnya kolaborasi yang nyata antara negara dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan global di masa mendatang. Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah pemanfaatan mata uang lokal serta peningkatan konektivitas sistem pembayaran antar negara.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menyampaikan penekanan tersebut dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS. Menurutnya, kerja sama ini akan memperkuat ketahanan terhadap guncangan yang berasal dari luar, dengan tetap memperhatikan kesiapan dan kondisi khusus masing-masing negara.
Filianingsih juga menegaskan bahwa negara-negara BRICS perlu lebih dari sekadar menjadi pengguna teknologi kecerdasan buatan (AI). Mereka harus bertransformasi menjadi penghasil inovasi dan kontributor aktif melalui pengembangan riset serta penguatan kapasitas domestik, seperti yang diungkapkan dalam keterangannya pada 14 Agustus 2026.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kolaborasi dalam menghadapi risiko yang berkaitan dengan serangan siber dan perubahan iklim. Kerja sama ini dianggap vital untuk membangun sistem ekonomi dan keuangan yang tidak hanya tangguh tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, Filianingsih hadir mewakili Indonesia bersama Wakil Menteri Keuangan RI, Juda Agung. Keduanya menyampaikan perspektif Indonesia mengenai perlunya penguatan kerjasama dalam kerangka BRICS untuk menghadapi tantangan yang ada.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh para pemimpin bank sentral dan kementerian keuangan dari negara-negara anggota BRICS, termasuk Indonesia, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Ethiopia, dan Iran.
Selama pertemuan yang berlangsung di Jaipur, India, pada 12-13 Agustus 2026, negara-negara BRICS sepakat untuk mengedepankan upaya peningkatan resiliensi, inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan sebagai landasan untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Inisiatif ini menjadi sangat penting mengingat dinamika geopolitik yang terus berubah, perkembangan teknologi yang pesat, serta risiko yang meningkat akibat perubahan iklim yang mengancam keberlangsungan ekonomi global.
Dalam forum tersebut, Indonesia juga mendorong pengembangan Infrastruktur Publik Digital (Digital Public Infrastructure/DPI), peningkatan akses pembiayaan iklim bagi negara-negara berkembang, serta transformasi digital dan penerapan AI yang disesuaikan dengan tahapan pembangunan masing-masing negara.
Tak kalah penting, Indonesia berupaya untuk meningkatkan peran negara-negara berkembang dalam tata kelola ekonomi global. Salah satu langkah yang diusulkan adalah memperkuat peran Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai bagian dari jaring pengaman keuangan global.
Pertemuan ini merupakan bagian dari jalur keuangan dalam presidensi BRICS India 2026, yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama dan respons kolektif terhadap tantangan ekonomi global yang dihadapi saat ini.
➡️ Baca Juga: 7 Makanan yang Bisa Atasi Migrain
➡️ Baca Juga: Penampakan Rudal Iran Hantam RS di Israel, Kepulan Asap Membumbung Tinggi




