Peran Penting Commercial Due Diligence dalam Keberhasilan Transaksi M&A Mid-Market

Jakarta – Aktivitas transaksi di segmen mid-market global mengalami penurunan signifikan pada tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian terkait tarif perdagangan yang mempengaruhi keputusan investasi.
Meskipun demikian, sejumlah transaksi yang sebelumnya ditunda masih menunggu untuk dilaksanakan. Para investor memilih untuk menunggu kondisi pasar yang lebih stabil sebelum melanjutkan kesepakatan yang ada.
Laporan dari BDO’s M&A Horizons 2026 menunjukkan bahwa penurunan aktivitas transaksi mid-market global juga dipengaruhi oleh terbatasnya horizon perencanaan strategis yang muncul di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, situasi ini tidak sepenuhnya mencerminkan perlambatan yang bersifat permanen.
“Banyak pemilik bisnis dan investor yang tetap berkomitmen pada rencana transaksi mereka dan memilih untuk menunggu momen pasar yang lebih baik sebelum melanjutkan kesepakatan,” ungkap Marvin Camangeg, Partner (Advisory) dari BDO di Indonesia, dalam keterangannya pada Senin, 16 Maret 2026.
Di kawasan Asia Pasifik, transaksi mid-market semakin menjadi perhatian utama bagi aktivitas private equity. Investor lebih cenderung untuk memprioritaskan transaksi yang lebih kecil dan fokus pada peningkatan operasional, dibandingkan dengan melakukan akuisisi yang lebih besar.
Di Asia Tenggara, sektor private equity mencatatkan investasi sekitar US$9,1 miliar melalui 59 transaksi selama tahun 2025, mencerminkan lingkungan investasi yang semakin selektif dan berhati-hati.
Indonesia tetap menunjukkan diri sebagai pasar M&A yang aktif, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar US$6,2 miliar dari 102 transaksi. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kehati-hatian dalam penempatan modal, minat investor tetap tinggi.
Pertumbuhan konsumen dan percepatan adopsi teknologi digital terus menarik perhatian investor, baik domestik maupun internasional. Selain itu, faktor sektoral, seperti konsolidasi dalam industri jasa keuangan dan meningkatnya minat pada sektor teknologi, manufaktur, serta energi berkelanjutan, turut mendorong aktivitas transaksi.
“Ke depan, para investor akan semakin menuntut standar due diligence yang lebih ketat serta struktur transaksi yang lebih inovatif. Jika keadaan perdagangan global menjadi lebih jelas, diperkirakan arus transaksi akan kembali meningkat, meskipun dengan tingkat selektivitas yang lebih tinggi,” ujarnya.
➡️ Baca Juga: Vidi Aldiano Targetkan Konser Tunggal dan Rilis Album Baru Sebelum Meninggal Dunia
➡️ Baca Juga: Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Transportasi Jadi Sorotan




