Penjualan Pisang Gulung Wijen Naik 40 Persen Menjelang Lebaran

Jelang perayaan Lebaran, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner merasakan lonjakan permintaan yang signifikan. Salah satu produk yang mengalami peningkatan penjualan adalah pisang gulung wijen, jajanan tradisional yang berasal dari Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Permintaan konsumen yang tinggi menjadikan produk ini semakin diminati, terutama saat momen spesial seperti Lebaran.
Lili Rusmiata, pemilik UMKM Berkah Ridho yang berlokasi di Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, mengungkapkan bahwa penjualan pisang gulung wijen mengalami lonjakan yang tajam. Banyak masyarakat membeli produk ini baik untuk sajian berbuka puasa maupun sebagai oleh-oleh saat Lebaran.
“Alhamdulillah, ada peningkatan sekitar 40 persen untuk beberapa produk unggulan, khususnya pisang gulung wijen,” ungkap Lili pada hari Minggu, 15 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa pesanan paling banyak datang dari platform daring serta toko oleh-oleh yang ada di Magetan dan sekitarnya. Selain itu, banyak pula pesanan yang diterima dari teman-teman untuk keperluan buka puasa.
Dalam kondisi normal, Lili menyebutkan bahwa produksi sehari-harinya dapat mencapai antara 1.000 hingga 1.500 pak dari berbagai jenis camilan. Jika dirata-rata dalam sebulan, total produksi dapat mencapai sekitar 45.000 pak. Selain pisang gulung wijen, UMKM ini juga memproduksi camilan lain seperti kacang gulung wijen, kacang caramel, dan pisang caramel.
Di bulan Ramadhan ini, Lili dan timnya telah menambah variasi produk dengan memproduksi berbagai jenis kue kering, seperti nastar nanas, nastar kurma, kastengel, dan coklat mente. Meskipun harga bahan baku mengalami kenaikan, Lili tetap berusaha menjaga harga jual produknya agar tetap terjangkau oleh konsumen.
“Untuk pisang caramel, misalnya, harganya masih berkisar antara Rp9.000 hingga Rp10.000 per pak. Kami tidak ingin menaikkan harga meski ada beberapa bahan pokok yang harganya bertambah. Sedikit untung tidak masalah, yang penting usaha kami lancar,” tuturnya.
Sejak tahun 2014, usaha ini telah berjalan dengan menggunakan bahan baku pisang Raja Nangka yang terkenal manis dan memiliki tekstur ideal untuk digoreng. Pisang tersebut diambil dari daerah Lamongan dan Boyolali yang secara rutin dikirim ke Magetan. Dalam seminggu, kebutuhan pisang dapat mencapai sekitar 1,5 ton.
“Lokal Magetan sebenarnya ada, namun jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, kami mendatangkan dari Lamongan dan Boyolali,” jelasnya.
Untuk mendukung proses produksi, UMKM Berkah Ridho kini mempekerjakan sekitar 25 orang, yang sebagian besar merupakan penduduk setempat. “Saat ini kami juga menambah pegawai musiman. Total yang membantu dalam proses produksi mencapai 25 orang,” tambahnya.
➡️ Baca Juga: Vidi Aldiano Telah Meninggal Dunia, Berita Duka yang Mengguncang Publik
➡️ Baca Juga: Jokowi Tanggapi Usulan Pemakzulan Gibran: Negara Ini Memiliki Sistem Ketatanegaraan, Ikuti Saja



