Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing tidak akan melemahkan praktik demokrasi di Indonesia.
Yusril menjelaskan bahwa fokus utama dari RUU ini adalah untuk menanggulangi disinformasi yang berasal dari pihak asing yang berpotensi merugikan kepentingan nasional.
“Ini bukanlah upaya untuk melemahkan demokrasi kita. Sebaliknya, kita justru ingin memperkuat demokrasi di tengah masyarakat. Disinformasi dan propaganda dari luar perlu kita tangkal secara bersama-sama,” ujar Yusril kepada wartawan di Jakarta, yang dikutip pada Kamis, 23 April 2026.
Saat ini, pemerintah masih berada dalam tahap persiapan, mendiskusikan, dan mengumpulkan pendapat dari berbagai pihak. Menurut Yusril, draf RUU yang konkret masih belum ada, dan naskah akademiknya juga belum diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
“Belum ada penyerahan (ke DPR) karena kita masih dalam tahap diskusi untuk mengumpulkan berbagai ide. Untuk mewujudkan RUU ini menjadi undang-undang, kita perlu melakukan dialog dengan Badan Legislasi DPR,” jelasnya.
Meski begitu, ia berharap semua pihak sepakat bahwa RUU ini sangat penting bagi kepentingan Indonesia. Yusril mengingatkan bahwa propaganda asing sering kali terjadi dalam dinamika internasional saat ini.
“Tidak jarang, sebuah negara menuduh negara lain dengan berbagai klaim, mulai dari para pemimpin hingga ke masyarakat, yang sebenarnya merupakan disinformasi dari pihak asing. Ini harus kita hadapi dan tekan bersama,” ungkapnya.
Yusril memberikan contoh mengenai propaganda asing yang pernah melanda Indonesia pada tahun 1970-an. Saat itu, ada klaim mengenai bahaya minyak kelapa, padahal Indonesia memiliki banyak sumber daya kelapa.
Ia menilai bahwa narasi tersebut adalah bagian dari propaganda pihak asing yang ingin mengembangkan industri minyak jagung atau kedelai mereka.
“Selanjutnya, kita beralih menanam kelapa sawit, dan Indonesia menjadi eksportir terbesar minyak sawit dunia. Namun, ada lagi propaganda yang menyudutkan kelapa sawit; itu semua adalah disinformasi dari pihak asing. Kita justru menjadi alat bagi kepentingan mereka, yang pada akhirnya merugikan kepentingan nasional kita,” imbuhnya.
➡️ Baca Juga: Strategi Latihan Kebugaran untuk Mempertahankan Energi Tubuh Sepanjang Hari
➡️ Baca Juga: Konsentrasi Tinggi Sebagai Kunci Kemenangan Atlet Badminton di Setiap Pertandingan
