Puan Mendesak Evaluasi Penugasan TNI di Daerah Konflik untuk Keamanan Nasional

Jakarta – Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait penugasan prajurit TNI di daerah yang mengalami konflik.

Pernyataan ini disampaikan oleh Puan setelah tiga prajurit TNI tewas dalam misi perdamaian yang berlangsung bersama UNIFIL di Lebanon.

“Pemerintah perlu segera melakukan evaluasi terhadap penugasan prajurit TNI di wilayah konflik,” ungkap Puan dalam rapat paripurna yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 22 April 2026.

Evaluasi yang dimaksud, menurut Puan, harus mencakup beberapa aspek penting seperti kejelasan misi, mandat yang diemban, kesiapan operasional, serta perlindungan yang maksimal bagi prajurit.

Ia menekankan bahwa perlindungan terhadap prajurit TNI harus sesuai dengan standar praktik internasional yang berlaku untuk memastikan keselamatan mereka dalam menjalankan tugas.

Dalam kesempatan tersebut, Puan juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon, yaitu Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon.

Dia juga mendorong agar dilakukan investigasi yang kredibel dan transparan terkait kematian tiga prajurit TNI tersebut, agar fakta-fakta dapat diungkap secara objektif.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengungkapkan beberapa temuan awal dari investigasi mengenai insiden yang terjadi pada 29 dan 30 Maret tersebut, yang mengakibatkan tewasnya tiga anggota TNI yang tergabung dalam UNIFIL, demikian disampaikan Juru Bicara PBB, Stephanie Dujarric.

Juru bicara tersebut menjelaskan bahwa berdasarkan bukti yang ada, termasuk analisis lokasi dan fragmen proyektil yang ditemukan di posisi PBB 7-1, insiden pada 29 Maret melibatkan peluru utama kaliber 120 mm yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur menuju Ett Taibe.

“Untuk mengurangi risiko bagi personel PBB, UNIFIL sudah memberikan kembali koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret,” jelas Dujarric dalam siaran pers Pusat Informasi PBB di Indonesia pada Rabu.

Selanjutnya, terkait dengan insiden yang terjadi pada 30 Maret, berdasarkan bukti yang terkumpul, termasuk analisis lokasi ledakan, kendaraan yang terlibat, serta perangkat peledak rakitan (IED) yang ditemukan di dekat lokasi, ledakan tersebut disebabkan oleh IED yang diaktifkan oleh korban melalui tripwire.

“Investigasi menunjukkan bahwa, mengingat lokasi kejadian, karakteristik ledakan, serta konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah,” tambahnya.

➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Mengatasi Kebiasaan Malas dalam Menyelesaikan Tugas Kampus

➡️ Baca Juga: IHSG Menguat di Sesi I, Simak 3 Saham Unggulan yang Sedang Melaju Pesat

Exit mobile version