Menjaga kesehatan reproduksi merupakan hal yang krusial bagi perempuan, terutama bagi remaja yang baru memasuki fase pubertas. Namun, sayangnya, pengetahuan tentang menstruasi dan kebersihan area intim masih belum merata di kalangan anak perempuan. Hal ini bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik mereka.
Menurut data UNICEF Indonesia tahun 2020, sekitar 25% anak perempuan di Tanah Air tidak pernah mendapatkan informasi mengenai menstruasi sebelum mengalami menarche, yaitu menstruasi pertama. Ketidaktahuan ini berpotensi menimbulkan kecemasan dan rasa tidak percaya diri, yang pada akhirnya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari mereka. Mari kita bahas lebih lanjut tentang pentingnya edukasi kesehatan reproduksi.
Pentingnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi harus ditanamkan sejak dini, baik melalui keluarga, lembaga pendidikan, maupun tenaga kesehatan. Berbagai inisiatif edukasi telah dilaksanakan di sekolah-sekolah untuk membantu remaja perempuan memahami cara yang tepat dalam menjaga kesehatan reproduksi mereka.
Sebagai contoh, di Karawang, Jawa Barat, sebuah sesi edukasi diadakan dengan menghadirkan dr. Kardiana Dewi, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin. Dalam sesi tersebut, ia berbagi berbagai tips sederhana yang sangat penting untuk menjaga kesehatan area reproduksi perempuan.
Menurut dr. Kardiana, menjaga kebersihan area intim adalah langkah awal yang harus dilakukan setiap hari, baik saat menstruasi maupun di luar periode tersebut.
“Penting untuk menjaga kebersihan area reproduksi, baik saat menstruasi maupun tidak. Pastikan untuk membersihkan dari arah depan ke belakang menggunakan air bersih, kemudian segera keringkan agar tidak lembap. Kelembapan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko iritasi serta pertumbuhan mikroorganisme,” imbuh dr. Kardiana dalam sesi diskusi yang diadakan oleh Unicharm, Rabu, 11 Maret 2026.
Ia juga menekankan bahwa menjaga kebersihan selama menstruasi sangatlah penting. Darah yang terlalu lama menempel pada kulit dapat meningkatkan risiko iritasi dan pertumbuhan bakteri.
“Selama menstruasi, sebaiknya pembalut diganti setiap 3-4 jam, atau lebih sering jika aliran darah cukup banyak. Darah menstruasi yang lama menempel pada kulit dapat menimbulkan iritasi dan meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri. Pilih pembalut yang memiliki daya serap tinggi dan permukaan tetap kering agar kulit tetap nyaman. Untuk malam hari, penggunaan pembalut yang lebih panjang bisa membantu mencegah kebocoran saat tidur, sehingga kualitas istirahat tetap terjaga dan tubuh dapat beristirahat dengan baik,” jelasnya.
➡️ Baca Juga: Memahami Aura Farming, Budaya, dan Tren Sosial 2025
➡️ Baca Juga: Prabowo Evaluasi Keanggotaan RI di Board of Peace untuk Meningkatkan Diplomasi Internasional
