Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah berencana untuk mengalihkan sumber impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS).
Bahlil menjelaskan bahwa keputusan untuk beralih dari Timur Tengah, yang sebelumnya menyuplai 25 persen dari total kuota impor minyak Indonesia, diambil karena situasi yang tidak menentu akibat penutupan Selat Hormuz sebagai dampak dari ketegangan antara Iran dan AS-Israel.
Dia juga menekankan bahwa proses impor minyak dari AS akan memakan waktu lebih lama, dengan perjalanan yang diperkirakan mencapai hingga 40 hari untuk sampai ke Indonesia.
“Alasan kita memilih Amerika adalah karena mereka memiliki volume minyak yang lebih besar,” ujarnya dalam Podcast Abuleke Kementerian ESDM, yang dilansir pada Kamis, 12 Maret 2026.
Bahlil mengakui bahwa ada banyak pertanyaan yang muncul terkait dengan waktu dan jarak tempuh yang lebih panjang jika Indonesia memutuskan untuk mengimpor minyak dari AS.
Namun, dia meyakinkan bahwa pihaknya telah merencanakan pola pemesanan yang matang untuk mengatasi tantangan yang mungkin timbul akibat lamanya waktu perjalanan untuk opsi impor minyak dari AS.
“Pasti ada banyak yang bertanya, ‘Mengapa impor dari Amerika memakan waktu 40 hari, sedangkan dari Timur Tengah hanya 2 hingga 3 minggu?’ Memang benar, jaraknya lebih jauh. Namun, kami melakukan pemesanan jangka panjang sejak awal. Hal ini agar metode distribusi logistik dapat diatur dengan baik,” terang Bahlil.
Ia menyebutkan bahwa pengalaman sebelumnya saat Indonesia melakukan pengalihan impor Gas Alam Cair (LPG) dari Timur Tengah ke AS juga menjadi acuan dalam pengambilan keputusan ini.
“Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran. Atas arahan Presiden Prabowo, pemerintah terus bekerja keras. Kami selalu mencari akses dan solusi,” imbuhnya.
➡️ Baca Juga: Pembelajaran hybrid sebagai model standar 2025: Masa Depan Pendidikan
➡️ Baca Juga: Kompleks Ayatollah Ali Khamenei Hancur Setelah Serangan Israel dan AS
