Kenaikan harga bahan baku plastik di tingkat global kini mulai memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai sektor, termasuk harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Di tengah kondisi ini, ada dorongan yang semakin kuat untuk mengurangi ketergantungan pada plastik.
Beberapa pelaku industri berpendapat bahwa plastik masih memiliki peranan penting dalam menjaga efisiensi distribusi dan keawetan produk. Namun, tekanan untuk mengurangi penggunaan plastik terus meningkat karena faktor lingkungan, sehingga muncul kebutuhan untuk menemukan alternatif yang lebih berkelanjutan tanpa meningkatkan harga.
Sebuah studi terbaru dari American Consumer Institute mengungkap potensi dampak ekonomi yang diakibatkan oleh penghapusan plastik kemasan. Dalam laporan berjudul ‘Material Substitution Costing Analysis’, peneliti Calvin Lakhan menunjukkan bahwa ada kemungkinan lonjakan harga yang signifikan.
“Plastik menjadi salah satu faktor utama yang membuat barang konsumsi tetap terjangkau dan mudah diakses,” kata Tirzah Duren, Presiden dan CEO ACI, seperti yang dilaporkan oleh Yahoo Finance pada 16 April 2026.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penghapusan plastik kemasan dapat mendorong peningkatan harga barang kebutuhan hingga 21,6 persen. Sebagai gambaran, biaya belanja rata-rata keluarga diperkirakan akan bertambah sekitar US$60,75 per kunjungan.
Kenaikan harga ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk biaya material pengganti yang lebih mahal, peningkatan biaya distribusi, serta risiko kerusakan produk yang lebih tinggi tanpa kemasan plastik. Di samping itu, pergeseran dalam proses produksi juga memerlukan investasi tambahan.
Dalam simulasi sederhana terkait kebutuhan sarapan, dampak dari penghapusan plastik juga terlihat jelas. Penggantian plastik pada produk seperti susu, bacon, dan buah beku dapat menyebabkan kenaikan biaya hingga 24,5 persen, atau sekitar US$6,34 per belanja.
Beberapa kategori produk lainnya diperkirakan akan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, seperti susu yang dapat meningkat hingga 38,3 persen, minuman bersoda hingga 55,1 persen, serta daging dan makanan beku yang berkisar antara 15 hingga 28 persen.
Namun, penting untuk dicatat bahwa temuan ini didasarkan pada simulasi dan asumsi tertentu, termasuk skenario di mana plastik dihapus secara luas tanpa adanya solusi alternatif yang lebih efisien. Oleh karena itu, hasil ini perlu dianalisis dalam konteks yang lebih luas.
Studi tersebut juga mencatat bahwa kenaikan harga akan lebih terasa bagi rumah tangga dengan penghasilan rendah hingga menengah, karena proporsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok mereka lebih besar dibandingkan dengan kelompok berpenghasilan lebih tinggi.
➡️ Baca Juga: Atur Waktu Freelance dan Side Hustle agar Tetap Produktif dengan Efektif dan Terencana
➡️ Baca Juga: Mengatur Posisi Pagar Betis yang Efektif dalam Menghadapi Tendangan Bebas
