Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan serta Kalimantan, Indonesia, telah membawa dampak signifikan bagi Singapura. Selain menimbulkan masalah terhadap kesehatan masyarakat, kabut asap ini juga menyebabkan penurunan yang mencolok dalam jumlah pemesanan untuk kegiatan wisata di negara berjulukan “negeri singa” ini.
Banyak pelaku industri pariwisata luar ruangan di Singapura melaporkan bahwa pemesanan mereka mengalami penurunan hingga 30 persen. Kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap membuat banyak pelanggan memilih untuk menunda atau bahkan membatalkan rencana wisata. Hal ini terutama berlaku untuk aktivitas yang memerlukan waktu lama di luar ruangan atau kegiatan fisik yang intens.
Situasi ini dirasakan oleh Yeo Yen Ping, Pendiri On A Roll Tour, yang menyatakan bahwa pemesanan tur menggunakan kick scooter dan tur jalan kaki menurun antara 10 hingga 20 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Namun, ia juga mencatat bahwa kenaikan harga hotel dan tiket pesawat mungkin berkontribusi terhadap penurunan tersebut.
Tur skuter yang ditawarkan oleh perusahaannya mencakup rute sepanjang 8 hingga 10 kilometer. Ketika kualitas udara berada pada tingkat yang tidak sehat, Yeo menyarankan agar pelanggannya mempertimbangkan untuk beralih ke tur jalan kaki atau memilih aktivitas yang dapat dilakukan di dalam ruangan.
Dalam setiap rute wisatanya, Yeo juga menyediakan beberapa tempat singgah yang berpendingin udara, seperti Galeri Nasional Singapura, Victoria Theatre and Concert Hall, serta museum dan Singapore City Gallery. Dengan cara ini, pelanggan dapat menikmati wisata sambil menghabiskan sebagian waktu mereka di dalam ruangan.
Di sisi lain, perusahaan penyewaan kapal pesiar Wanderlust Adventures menghadapi tantangan yang lebih besar, karena pelanggan umumnya menghabiskan sebagian besar waktu mereka di perairan terbuka, yang kurang dapat dihindari.
Direktur Wanderlust Adventures, Quek Wee Teck, mengungkapkan bahwa perusahaan mereka mengalami penurunan bisnis sebesar 30 persen sejak bulan September. Lebih dari setengah pelanggan mereka berasal dari negara-negara seperti China, India, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Perusahaan ini menetapkan waktu minimal penyewaan kapal pesiar selama empat jam.
Quek menambahkan bahwa biasanya mereka menerima banyak pelanggan dari China selama libur Hari Nasional China yang dimulai pada 1 Oktober. Namun, tahun ini, jumlah pelanggan dari negara tersebut mengalami penurunan yang signifikan.
Sementara itu, Singapore River Cruise, yang menawarkan pengalaman wisata menyusuri sungai selama 40 menit, melaporkan bahwa mereka tidak mengalami perubahan bisnis yang berarti di tengah situasi ini.
➡️ Baca Juga: Kevin Diks Memuji Sikap dan Talenta Luar Biasa Mitchell Baker serta Luke Vickery
➡️ Baca Juga: Peluang Polwan Memimpin Polri di Masa Depan Menurut Jenderal Sigit
