Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, memberikan pandangannya terkait situasi terkini di Timur Tengah serta potensi dampak yang dapat ditimbulkan terhadap nilai tukar rupiah.
Erwin menyampaikan, dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat terhadap Iran, sentimen risk off mulai menyebar di pasar keuangan global. Dalam kondisi ini, Bank Indonesia akan terus melakukan pemantauan terhadap dinamika pasar secara mendetail.
“Bank Indonesia akan merespons situasi ini dengan langkah yang tepat, termasuk memastikan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi,” ungkap Erwin dalam keterangan resminya pada Senin, 2 Maret 2026.
Dia menegaskan bahwa BI akan terus berpartisipasi aktif di pasar melalui berbagai bentuk intervensi. Ini termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
“Selain itu, BI akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk memperkuat efektivitas transmisi suku bunga,” tambahnya.
Diketahui bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika diperkirakan akan mengalami fluktuasi. Namun, pada perdagangan hari ini, rupiah menunjukkan pelemahan.
Berdasarkan informasi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat pada level Rp 16.779 per Jumat, 27 Februari 2026. Ini menunjukkan penurunan sebesar 21 poin dibandingkan dengan level sebelumnya yang berada di Rp 16.758 pada perdagangan hari Kamis, 26 Februari 2026.
Sementara itu, pada perdagangan di pasar spot pada Senin, 2 Maret 2026 hingga pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah ditransaksikan di angka Rp 16.831 per dolar AS. Ini mencerminkan pelemahan sebesar 44 poin atau 0,26 persen dari posisi sebelumnya yang tercatat di Rp 16.787 per dolar AS.
➡️ Baca Juga: Justin Hubner Cetak Gol, Fortuna Sittard Kalahkan NEC Nijmegen Dalam Pertandingan 5 Gol
➡️ Baca Juga: 7 Makanan yang Bisa Atasi Migrain
