Angkatan Laut Amerika Serikat baru-baru ini mengeluarkan peringatan kepada seluruh pelautnya untuk lebih berhati-hati dalam mengelola perangkat elektronik, akun media sosial, dan informasi pribadi mereka. Peringatan ini dikeluarkan seiring dengan meningkatnya ancaman siber akibat ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran, yang dapat berdampak langsung pada anggota militer AS.
Dalam sebuah memo tertanggal 17 April, Sekretaris Angkatan Laut John Phelan menekankan adanya bahaya dari “aktor siber musuh” yang berusaha memengaruhi psikologis para pelaut serta keluarga mereka. Mereka berusaha untuk menarik perhatian pelaut dengan mengirimkan tautan dan file yang berpotensi berbahaya, yang dapat merugikan keamanan informasi.
Memo tersebut mengungkapkan bahwa dalam konteks Operasi EPIC FURY, aktor siber musuh aktif melakukan kampanye rekayasa sosial yang secara khusus menargetkan personel Departemen Angkatan Laut (DON) beserta keluarganya. Mereka menggunakan teknik spear phishing dan menjalin kontak melalui media sosial untuk mencapai tujuan mereka.
Angkatan Laut juga mengingatkan para pelaut agar lebih waspada terkait aplikasi kencan dan aplikasi lain yang mungkin meminta atau mendorong penggunaan dan pembagian informasi pribadi. Mereka perlu berhati-hati dalam meneliti identitas orang-orang asing yang berusaha menghubungi mereka dan mengatur akun media sosial mereka ke tingkat privasi yang maksimum.
Lebih lanjut, dinas tersebut mendorong para personel untuk menghapus informasi pribadi yang dapat diakses melalui mesin pencari seperti Google. Mereka juga disarankan untuk menonaktifkan fitur pelacakan lokasi, mikrofon, dan kamera pada aplikasi yang mereka gunakan di ponsel.
Pelaut juga dianjurkan untuk memperkuat keamanan akun mereka dengan membuat kata sandi yang lebih kompleks dan menerapkan autentikasi multi-faktor. Selain itu, mereka harus berhati-hati terhadap konten yang mereka unggah ke media sosial dan meminta teman serta keluarga untuk tidak membagikan informasi atau gambar yang dapat membahayakan privasi mereka.
Peringatan ini muncul setelah beberapa insiden siber yang menargetkan pasukan AS di wilayah Timur Tengah. Salah satu insiden melibatkan pesan yang diterima oleh pasukan pada bulan Maret, yang tampaknya merupakan panduan resmi dari Komando Siber AS. Pesan tersebut memperingatkan tentang pentingnya mematikan layanan lokasi, meskipun pihak komando menegaskan bahwa mereka tidak mengirimkan informasi tersebut.
Meskipun kebijakan Pentagon saat ini sudah membatasi aktivitas resmi anggota layanan di perangkat pribadi, pemberitahuan dari Angkatan Laut ini menambah langkah-langkah lebih lanjut dengan mendorong pelaut untuk mengurangi aktivitas online mereka.
Dalam memo tersebut, para pelaut juga diminta untuk menonaktifkan koneksi Bluetooth dan WiFi saat perangkat tidak digunakan, menghindari koneksi WiFi publik, dan secara rutin memperbarui aplikasi. Pembaruan ini penting karena sering kali mengatasi bug dan kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber.
Dengan meningkatnya ancaman siber dalam konteks media sosial dan perang Iran, langkah-langkah pencegahan yang diambil oleh Angkatan Laut AS menjadi semakin krusial. Keamanan informasi dan kesadaran akan potensi ancaman sangat penting bagi anggota militer dan keluarganya untuk menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan di dunia maya.
➡️ Baca Juga: IHSG Menguat di Tengah Bursa Asia-Pasifik Lesu Akibat Ancaman Blokade Selat Hormuz
➡️ Baca Juga: HMAX Energy Diluncurkan: Hitachi Perkenalkan Solusi AI untuk Melindungi Infrastruktur Energi Penting
